Taujih Ketua DSP PKS Dalam Menyambut Ramadhan
Ust. Surahman Hidayat (Ketua Dewan Syariah Pusat PKS)
Ada beberapa hal yang istimewa sehubungan dengan penyelenggaraan Tarhib Ramadhan pada tahun ini, khususnya untuk kita para kader dakwah di DKI Jakarta.
Keistimewaan pertama bahwa posisi Tarhib Ramadhan pada tahun ini berada dalam rangkaian “kemenangan” Pilkada di DKI Jakarta. Kemenangan ini menjadi modal untuk memastikan diraihnya kemenangan di bulan Ramadhan, karena kita tidak ingin kalah dengan datangnya bulan suci Ramadhan.
Keistimewaan kedua bahwa tarhib ini juga diadakan setelah diselenggarakannya Rapimnas. Rapimnas ini untuk memperkokoh
sarat-sarat kemenangan yang ditegaskan dalam dua kata kunci yaitu
pemantapan kapasitas kepemimpinan dan pelayanan.
Kapasitas kepemimpinan yang kita pahami adalah kapasitas keteladanan.
Kemudian Keteladanan ini didukung dengan kepasatitas pelayanan kepada
seluruh warga masyarakat.
Keistimewaan lainnya adalah bahwa kapasitas sebagai para muwajih untuk
lingkungan dan masyarakat kita. Jadi posisi kita dobel, Sebagi muwajih
tentu saja kesungguhan kita di dalam menyongsong dan menyambutnya
harus lebih kuat, lebih bermakna, lebih berkualitas dari tarhib-tarhib
yang diadakan muslim lainnya. Dan tentu saja persiapan kita untuk
meraih kemenangan Ramadhan harus lebis serius.
Sebagai muwajjih, harus ada yang spesial dalam menyambut Ramadhan.
Kalau tamu itu datang dan kita kurang persiapan yang selevel dengan
kemuliaan dari tamu itu, maka apa yang akan terjadi, kita akan
dipermalukan oleh Allah SWT. Allah mengirimkan tamunya yang mulia,
tetapi kita tidak menyambutnya secara selayaknya. Mungkin rasa malu
itu tidak kita rasakan di dunia, tetapi pasti akan kita rasakan di
akhirat.
Kalau kita benar-benar ingin benar-benar berhasil dalam Ramadhan,
pastilah kita benar-benar akan melakukan persiapan-persiapan yang
semestinya. Ini kita kiatkan dengan kita akan menyambut bulan agung
Ramadhan. Kalau sungguh-sungguh keinginan dan niat kita itu, niscaya
kita mempersiapkan diri pada tingkat individu, keluarga dan pada
tingkat komunitas kita.
Ada dua pola sekaligus dua posisi ketika kita menunaikan ibadah. Pola
dan posisi pertama adalah kita melakukan ibadah termasuk shiyam,
qiyam, Al-Qur’an dalam posisi orang yang memang sadar dan menjalankan
kewajiban. Artinya kita menjalankan amaliah Ramadhan itu karena kewajiban.
Kalau pola ini, paling tingkatannya orang melaksanakan kewajiban itu
standar saja. Tetapi pola yang dicontohkan Rosulullah adalah pola
ibadah orang-orang yang bersyukur atas karunia Allah.
Pola Romadhan yang akan kita laksanakan adalah pola puasa dan
ibadahnya orang-orang yang bersyukur. Jadi kita dalam menjalani ibadah
nanti keutamaan ibadah itu yang harus kita sempurnakan.
Sholat jamaah kita selalu dilakukan di awal waktu, dan diupayakan
dilakukan di masjid. Kalau ada syarat sahnya ibadah, maka orang yang
beribadah karena rasa syukur tidak saja memperhatikan syarat-sayarat
sah tetapi dia akan melaksanakan syarat-syarat kesempurnaan.
Begitu pula dalam membaca Alqur’an, bila ibadah kita adalah ibadah
orang-orang yang bersyukur, maka kita akan merasakan kehangatan
bersama Al-Qur’an dan kita tidak menghitung-hitung lagi setengah juz
atau satu juz. Selama kita memiliki kesempatan membaca Al-Qur’an maka
kita akan terus membacanya.
Kalaulah puasa itu ada pengaruhnya pada penampilan fisik, mulut
menjadi kering, maka biarlah mulut menjadi kering karena menahan lapar
dan dahaga, tetapi marilah kita basahi dengan dzikir kepada Allah SWT.
Karena disebutkan dalam sebuah hadist bahwa diantara orang-orang yang
akan mendapat karunia Allah, adalah orang-orang yang selalu membasahi
dirinya dengan dzikrullah. Ini peluang dalam Ramadhan.
Marilah kita pastikan, kita pun tidak mau ketinggalan, tidak mau kurang seratus kali beristigfar setiap hari selama bulan suci Ramadhan.
Kalau kita berinfaq, bersadaqah, tidak lagi kita hitung. Sebab orang
yang bersyukur, adalah dasarnya kita serahkan hitung-hitungan
pahalanya kepada Allah. Kita hanya menjalankan saja. Kita serahkan
kepada Allah untuk memberikan imbalannya sesuai dengan kerahiman Allah
SWT bukan keadilannya. Sebab kalau Allah memberikan imbalan sesuai
dengan keadilannya, akan banyak ibadah kita yang tidak layak untuk
diberi imbalan, karena Allah tahu betul disitu ada ria, rusak
keikhlasan kita, ada kekurangsempurnaan, tetapi kita berharap
kerahiman Allah SWT.
Dalam kerangka ibadah dan shiyam yang syukur ini, maka arti shiyam
yang secara harfiyah adalah al imsyak-menahan, kita harus tingkatkan
bahwa bukan hanya semata-mata untuk menahan.
Kita sering melihat tampilan orang-orang yang berpuasa, menahan lapar
dan dahaga, menahan tidur dan terlalu banyak, akhirnya dia menahan
untuk memperbayak aktifitas.
Mengapa?
Karena tenaganya kurang, akhirnya ia tampak loyo dan berkurang produktifitasnya. Berangkat ke tempat kerja siang, tapi pulang ingin lebih cepat. Di tempat kerja juga demikian, dari ngantuk, nguap dan seterusnya.
Ini kalau menahan untuk menahan. Puasanya hanya menunggu tibanya waktu Maghrib saja. Ini tidak lebih puasnya orang yang menunggu dan menonton saja. Apalagi bila diperparah dengan menyalahkangunakan hadist nabi, “Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah.” Sehingga dia dari pagi
sampai siang hingga sore tidur saja. Toh itu sudah ibadah menurut
pemahamannya.
Padahal yang dimaksud dengan hadist ini, bukan tidur untuk tidur, tapi tidur sedikit untuk segar lagi, setelah itu bangun untuk tilawatil qur’an, untuk melaksanakan ibadah sehingga produktifitasnya dapat terjaga dan terpelihara.
Jadi kita harus menghindari pemahaman dan aplikasi bahwa shiyam itu
menahan dari semua-muanya. Akhirnya kurang aktifitas dan
produktifitas. Padahal di bulan Ramadhan ini juga merupakan hari
bertemunya dua pasukan muslimin dan kufar. Tentu saja itu suatu
prestasi dan produktifitas yang sangat gemilang. Oleh karenanya al
imsak dalam makna puasa ini, menahan supaya kita bisa mengoptimalkan
amal ibadah dan amal sholeh kita. Sebab al imsak itu dari hal-hal yang
membatalkan dan dari hal-hal yang negatif.
Kalau kita melihat dari hal-hal yang merusak puasa, maka kita akan
bisa memaksimalkan kekuatan yang positif untuk memenangkan puasa kita
setiap hari, memenangkan qiyamulail kita setiap hari, memenangkan
tilawatil qur’an kita setiap hari. Jadi kita harus terus menyegarkan
pemahaman kita bahwa al imsak adalah menahan dari hal-hal yang
negatif, agar kita bisa melecutkan potensi dan meningkatkan energi
yang Allah berikan kepada kita untuk berbuat lebih banyak hal-hal yang
baik.
Kalau kita melaksanakan shiyam Ramadhan itu karena syukur kepada Allah
SWT, maka imsaknya bukan imsak paling dasar. Kita menahan diri dari
hal-hal yang membatalkan saja, Bukan hanya itu. Kita harus naik
sederajat lebih tinggi lagi, yaitu kita menahan diri dari segala hal
yang diharamkan oleh Allah SWT. Sebab disebutkan dalam hadist, banyak
orang yang berpuasa, tapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja,
karena yang ditahan hanya lapar dan dahaga saja, tapi gagal menahan
hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT.
Contoh hal-hal yang diharamkan oleh Allah adalah berburuk sangka
terhadap sesama kaum muslimin. Kita wajib menghindari prasangka buruk
terhadap sesama kaum muslimin.
Cara untuk menghindari prasangka buruk adalah pertama, pahamilah bahwa
apa yang dia lakukan sesungguhnya adalah hal yang baik. Seorang
penyair menyebutkan kalau kamu ingin ingin mempertahankan ukhuwah,
maka apa yang kamu lihat dari saudaramu itu, pahamilah bahwa apa yang
ia lakukan itu baik, mungkin informasinya yang keliru kepada kita.
Yang kedua, doakanlah mereka dan mintakanlah maaf untuk mereka. Dalam
berpuasa, kita berupaya agar tidak masuk pemikiran yang negatif. Tidak
ada ruginya berpikiran positif.
Selain itu, hal-hal yang harus kita hindari adalah perkara subhat.
Kita masih ragu apakah ini halal atau haram. Menghindari subhat adalah
jalan menuju taqwa. Rosulullah bersabda “Siapa yang menghindari subhat
berarti dia telah membersihkan agama dan harga dirinya”. Tidaklah
mungkin kita mencapai derajat taqwa kalau agama kita masih kotor.
Karenanya diantara derajad taqwa adalah menghindari dari hal-hal yang
subhat.
Selain subhat, kita juga harus berupaya menghindari hal-hal yang
makruh. Biasanya hal-hal yang makruh adalah dalam menggunakan waktu,
misalnya hiburan. Asalnya halal, tapi kalau kebanyakan yang halal,
sehingga menggeser tugas dan pekerjaan yang lebih penting, maka yang
halal ini berubah menjadi makruh. Demikian juga tidur, asalnya halal
tapi kalau terlalu banyak jadi makruh, tilawahnya jadi kurang, bahkan
amalan sunat jadi kurang, Padahal yang akan memberikan safaat bagi
orang-orang yang berpuasa adalah Al Qur’an.
Inilah makna shiyam yang ingin kita perbaharui. Dengan upaya-upaya
tersebut, Insya Allah kita tepat dalam memposisikan diri mencapai
derajad taqwa.
note 
Taujih itu adalah taujih Ramadhan 1428 H, didownload dari situs PKS.

[...] Taujih Ketua DSP PKS Dalam Menyambut Ramadhan [...]
By: Kader PKS - Menghimpun potensi kader dan ummat on June 18, 2008
at 12:16 pm
Allahu Akbar …
semangat!
By: yuda harja on August 21, 2008
at 11:22 am