Posted by: Hasna Diana | November 9, 2007

Kriteria Muhsinin

“Alif Laam Miim, Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmat, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS 31:1-5)

Kriteria Muhsinin:

1 orang-orang yang menjadikan Al Quran sebagai petunjuk

2 orang-orang yang mendirikan shalat

3 orang-orang yang menunaikan zakat

4 orang-orang yang yakin akan adanya negeri akhirat

Pahala:

Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (muflihun)

Kajian Tafsir Ibnu Katsir oleh KH Abdul Hasib Hasan, Lc:
(didownload dari: http://www.layananquran.com)

“Alif laam Miim Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmat, Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan,” (Luqman: 1-3).

Pengertian Muhsinin
Al Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang berbuat baik, Ihsan perbuatannya, orangnya disebut Muhsin, kalau jamak muhsisnin, Ihsan itu ialah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya padahal kamu tidak melihatNya.

Sifat-sifat Muhsinin

Pertama, muhsiniin adalah orang yang menjadikan Qur’an itu sebagai hidayah Artinya setiap perilakunya selalu sesuai dengan tuntunan Al Qur’an, dan seluruh waktunya penuh berinteraksi dengan Al Qur’an.

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, Allah menjadikan Al Qur’an ini sebagai obat untuk orang yang muhsisnin mereka itu orang-orang yang selalu berbuat baik dengan mengikuti syari’at. Kadang-kadang orang memahami syari’at itu sempit, potong tangan, rajam begitu pemahamn orang non muslim ketika syari’at itu akan ditegakan. Padahal, bersikap adil itu merupakan syari’at, pemberantasan korupsi juga syari’at.

Ibnu Katsir mengatakan shalat-shalat nafilah yang rotiba dan juga sunnah yang lain termasuk kedalam iqomatu sholat, dan juga menurut Ibnu Abbas termasuk khusyunya, karena khusyu itu termasuk rukun shalat.“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.”(Luqman : 4).

Kedua, menegakan Shalat dan Membayar zakat
Ibnu Katsir menjelaskan esensinya dari zakat dan shalat, yaitu mereka menguatkan kekrabatan, shalat itu adalah membangun hubugan pertikal dengan Allah sedangkan zakat adalah hubungan horizontal, padahal ada yang lain, bukan cuma dua hal ini tapi ini telah memenuhi hubungan pertikal dan horizontal.

Ketiga, dan kepada Akhirat mereka yakin
Kita lihat ketika menyangkut ahirat menggunakan kata yakin, seperti dalam Al Baqarah, kata ulama yakin itu meyakini dan memahaminya sampai pada tingkat terbayang kejadiannya, Sayid Qutub mengatakan keyakinan kepada akhirat itu akan meningkat kwalitas dan akan terjamin keikhlasannya, dan kontinyuitas ibadahnnya akan terjaga, kalu orang keyakinannya kepada akhirat maka keikhlasan dan kontinyuitasnya terjaga.
“Mereka Itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.”(Luqman:5).

Balasan untuk orang Muhsinin
Balasan bagi orang muhsinin Kata Sayid hawwa, menafsirkan ayat ini,’ala itu pas, artinya yang mendapatkan petunjuk itu pas, tidak melanceng sedikitpun. Dan mereka akan mendapatkan keuntungan, dan keuntungan yang tertinggi adalah ketika Allah SWT, menjadikannya pewaris surga firdaus, Kata Ibnu Katsir ketika menafsirkan kata-kata terakhir di ayat ini, mereka itulah yang akan mendapat keuntungan didunia dan akhirat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: